White Coat Hypertension (WCH) dan Peningkatan Risiko Kardiovaskular

22 Aug 2020

White Coat hypertension (WCH) atau hipertensi jas putih adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan adanya peningkatan tekanan darah saat diperiksa oleh dokter atau tenaga medis di tempat praktik namun normal saat dilakukan di luar tempat praktik dokter tanpa menggunakan obat anti hipertensi. Kasus pertama mengenai hipertensi jas putih ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1988, dan masih terus dipelajari sampai sekarang ini.1 Sampai saat ini belum ada konsensus mengenai alur diagnosis WCH dikarenakan data yang belum konsisten serta variasi defenisi sehingga menyebabkan penanganan WCH belum optimal.

 

Guideline terbaru dari American College of Cardiology (ACC) dan American Heart Association (AHA) mendefinisikan WCH sebagai peningkatan tekanan darah di tempat praktek dokter <130/80 mmHg sampai <160/100 mmHg dengan monitoring tekanan darah setiap waktu saat pasien bekerja seperti biasanya (Ambulatory Blood Pressure Monitoring/ABPM)<130/80 mmHg ataupun tekanan darah yang diperiksa di rumah (Home Blood Pressure Monitoring/HBPM) sebesar <130/80 mmHg.2 Berbeda dengan ACC dan AHA, European guideline mendefenisikan WCH sebagai peningkatan tekanan darah sistolik ³140 dan diastolik ³90 mmHg saat di tempat praktek dokter.3 Oleh karena itu, WCH dapat didefenisikan sebagai peningkatan tekanan darah ³140/90 mmHg saat diperiksa di tempat praktek dokter dan <135/85 mmHg saat di periksa di luar tempat praktek dokter.1

 

Studi ARTEMIS (Ambulatory Blood Pressure Registry Telemonitoring of Hypertension and Cardiovascular Risk) pada subjek sebanyak 14.143 orang yang diambil secara acak dari 27 kota di Eropa (73%), Asia (14%), Amerika (9%), Afrika (3%), dan Australia (2%) melaporkan bahwa prevalensi WCH sebesar 23% diantara pasien yang datang dengan diagnosa hipertensi.4 Studi IDACO (International Database on Ambulatory Blood Pressure Monitoring in Relation to Cardiovascular Outcomes) pada subjek sebanyak 8.237 orang yang diambil secara acak dari Asia, Eropa, dan Amerika Selatan melaporkan bahwa prevalensi WCH adalah 9% pada pasien tanpa terapi hipertensi sebelumnya dan sebesar 30% diantara pasien yang sebelumnya sudah mendapatkan terapi hipertensi.5 Studi ARTEMIS dan IDACO menunjukkan bahwa WCH lebih sering terjadi pada wanita, dewasa tua, pasien tidak merokok, individu yang baru diagnosa hipertensi, dan wanita hamil. Studi ARTEMIS dan IDACO juga menunjukkan bahwa WCH disertai dengan adanya pembesaran ventrikel kiri minimal dan tidak menunjukkan adanya kerusakan pada target organ.4,5

 

Hubungan antara kejadian WCH dengan kerusakan organ target dan risiko pada sistem kardiovaskular masih diperdebatkan. Akan tetapi, beberapa studi sebelumnya menunjukkan bahwa adanya hubungan minimal antara WCH dengan risiko kejadian kardiovaskular. Selain itu, beberapa studi sebelumnya juga menunjukkan bahwa adanya hubungan antara WCH dengan peningkatan risiko kerusakan organ target, peningkatan angka kecacatan dan angka kematian yang diakibatkan oleh penyakit kardiovaskular.6,5 Insidensi kejadian kardiovaskular secara signifikan lebih tinggi pada kelompok WCH (6%) dibandingkan dengan subjek normostensif (4%).7 Akan tetapi, Angka kejadian kardiovaskular pada subjek WCH secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan subjek dengan hipertensi menetap.8  Huang, dkk melakukan studi metaanalisis untuk mengevaluasi penyakit kardiovaskular pada subjek WCH. Studi tersebut menunjukkan bahwa pada subjek WCH yang tidak diterapi memiliki risiko kejadian kardiovaskular (RR 1,38, 95% CI 1,15-1,65) dan angka mortalitas yang lebih tinggi (RR 1,20, 95% CI 1,03-1,40) dibandingkan dengan subjek normotensive. Akan tetapi pada WCH yang diterapi, risiko kardiovaskular tidak berbeda dengan subjek normotensive (RR 1,16, 95% CI 0,91-1,49).8

 

Terdapat 2 studi observasional longitudinal yang menunjukkan bahwa adanya risiko perkembangan menjadi hipertensi menetap yang secara signifikan lebih tinggi pada subjek WCH yang tidak diterapi setelah diikuti selama 10-11 tahun.  Studi PAMELA 2009 menunjukkan bahwa subjek WCH yang tidak diterapi memiliki risiko tinggi akan mengalami hipertensi menetap.9 Studi lainnya yaitu studi Ohasama dengan menggunakan Home Blood Pressure Monitoring yang menunjukkan bahwa adanya risiko perkembangan hipertensi menetap pada WCH yang tidak diterapi.10 Selain itu, studi International Database on Ambulatory Blood Pressure Monitoring in Relation to Cardiovascular Outcomes (IDACO) melibatkan 11 kohort dari 11 negara menunjukkan bahwa insidensi penyakit kardiovaskular secara signifikan hanya terjadi pada kelompok WCH-risiko tinggi usia tua yaitu subjek dengan usia tua dengan jenis kelamin pria, memiliki riwayat merokok, dyslipidemia, dan obesitas.9 Hal tersebut tidak terdapat adanya peningkatan insideni kardiovaskular yang bermakna pada kelompok WCH-risiko rendah dan kelompok WCH usia lebih muda.8

Akan tetapi, faktor pasti yang berkontribusi terhadap peningkatan risiko kardiovaskular pada subjek dengan WCH belum jelas. Pada 115,708 subjek dari registry Spanish ABPM, subjek WCH secara signifikan memiliki prevalensi diabetes, dislipidemia, mikroalbuminuria, hipertrofi ventrikel kiri, penurunan fungsi ginjal dan riwayat penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi dibandingkan dengan subjek normotensive. Peningkatan prevalensi risiko kardiovaskular atau kerusakan organ hanya terlihat pada subjek dengan normal daytime BP (<135/85 mmHg) atau normal 24-h BP (<130/80 mmHg) namun tidak pada subjek WCH dengan normal daytime, night time (<120/70 mmHg) dan 24-h BP.8,10 Hal ini menunjukkan bahwa adanya kondisi WCH yang heterogeny dan adanya kemungkinan peningkatan risiko kardiovaskular pada subgroup spesifik dari subjek WCH dengan risiko kardiovaskular tinggi.11

 

 

1.    Kario K, Thijs L, Staessen JA. Blood Pressure Measurement and Treatment Decisions: Masked and White-Coat Hypertension. Circ Res. 2019;124(7):990–1008.

2.    Whelton PK, Carey RM, Aronow WS, Casey DE, Collins KJ, Himmelfarb CD, et al. 2017 ACC/AHA/AAPA/ABC/ACPM/AGS/APhA/ASH/ ASPC/NMA/PCNA guideline for the prevention, detection, evaluation, and management of high blood pressure in adults: Executive summary: A report of the American college of cardiology/American Heart Association task force on clinical practice guidelines. Vol. 71, Hypertension. 2018. 1269–1324 p.

3.    Mancia G, De Backer G, Dominiczak A, Cifkova R, Fagard R, Germano G, et al. 2007 Guidelines for the Management of Arterial Hypertension: The Task Force for the Management of Arterial Hypertension of the European Society of Hypertension (ESH) and of the European Society of Cardiology (ESC). Vol. 25, Journal of Hypertension. 2007. 1105–1187 p.

4.    Omboni S, Aristizabal D, De La Sierra A, Dolan E, Head G, Kahan T, et al. Hypertension types defined by clinic and ambulatory blood pressure in14143 patients referred to hypertension clinics worldwide. Data from the ARTEMIS study. J Hypertens. 2016;34(11):2187–98.

5.    Asayama K, Thijs L, Li Y, Gu Y, Hara A, Liu Y, et al. International Database on Ambulatory Blood Pressure in Relation to Cardiovascular Outcomes (IDACO) Investigator. Setting tresholds to varying blood presure monitoring intervals differentiallyaffects risk estimates associated with white-coat and masked hyp. Hypertension. 2015;64(5):935–42.

6.    Pierdomenico SD, Cuccurullo F. Prognostic value of white-coat and masked hypertension diagnosed by ambulatory monitoring in initially untreated subjects: An updated meta analysis. Am J Hypertens [Internet]. 2011;24(1):52–8. Available from: http://dx.doi.org/10.1038/ajh.2010.203

7.    Huang Y, HuangW, Mai W, Cai X, An D, Liu Z, et al. White-coat hypertension is a risk factor for cardiovascular diseases and total mortality. J Hypertens. 2017;35:677–88.

8.    Abolbashari M. White Coat Hypertension and Cardiovascular Diseases: Innocent or Guilty. Curr Cardiol Rep. 2018;20(4):18–22.

9.    de la Sierra A, Vinyoles E, Banegas JR, Segura J, Gorostidi M, de la Cruz JJ, Ruilope LM. Prevalence and clinical characteristics of white-coat hypertension based on different definition criteria in untreated and treated patients. J Hypertens. 2007;35:2388–2394.

10.   Mancia G, Bombelli M, Facchetti R, Madotto F, Quarti-Trevano F, Polo Friz H, Grassi G, Sega RLong-term risk of sustained hypertension in white-coat or masked hypertension.Hypertension200954:226–232.

11.   Ugajin T, Hozawa A, Ohkubo T, Asayama K, Kikuya M, Obara T, Metoki H, Hoshi H, Hashimoto J, Totsune K, Satoh H, Tsuji I, Imai YWhite-coat hypertension as a risk factor for the development of home hypertension: the Ohasama study.Arch Intern Med2005165:1541–1546.

 

 

 

Ditulis oleh: Swandito Wicaksono, MD, M.Biomed

Penulis saat ini adalah residen kardiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. Penulis sebelumnya bekerja di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Bengkulu, Bengkulu.
White Coat Hypertension (WCH) dan Peningkatan Risiko Kardiovaskular