Kupas tuntas fakta mengenai COVID-19 dan Penyakit Jantung

26 Apr 2020

 Berawal di Wuhan pada akhir tahun 2019, dunia dihebohkan oleh virus bernama novel coronavirus. Coronavirus disease 2019 (COVID-19) atau penyakit yang diakibatkan oleh virus tersebut mencapai status pandemi tidak sampai 4 bulan sejak pertama kali dilaporkan.  Berbagai fakta, spekulasi, serta rumor mengenai penyakit ini telah banyak beredar, baik di media resmi maupun melalui media informasi lainnya, seperti grup whatsapp atau media sosial. Berikut beberapa informasi penting yang dapat dijadikan pegangan informasi sehari-hari

1.  Sebagai orang dengan riwayat sakit jantung, apakah risiko saya terkena COVID-19 lebih tinggi dibandingkan dengan orang tanpa sakit jantung?

Tidak. Risiko penularan COVID-19 tidak berbeda antara pasien dengan sakit jantung dan tanpa sakit jantung. Meski demikian, tanda dan gejala infeksi COVID-19 umumnya lebih sering ditemukan serta lebih berat pada orang         dengan riwayat sakit jantung. Sebagian besar penderita COVID-19 menunjukkan gejala infeksi virus ringan seperti nyeri tenggorokan, batuk, nyeri, serta demam. Namun pada sebagian pasien (sekitar 5%) dapat mengalami infeksi paru atau pneumonia. Hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang pasti mengenai hubungan antara penyakit jantung dan infeksi paru pada COVID-19, meskipun demikian hal ini tetap perlu diperhatikan mengingat pasien dengan penyakit jantung lebih mudah mengalami infeksi paru akibat virus lainnya seperti flu.

2.  Apakah semua orang dengan riwayat sakit jantung memiliki risiko yang sama untuk terkena COVID-19 yang berat?

Konsep dasar penularan tidak berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Virus ditularkan melalui droplet yang bertebaran di udara saat orang yang terinfeksi batuk/bersin/berbicara atau menyentuh permukaan yang terkontaminasi oleh virus. Virus corona dapat bertahan hingga beberapa jam atau bahkan hari di permukaan benda seperti meja atau gagang pintu. Ketika masuk ke dalam tubuh, virus tersebut akan menyebabkan kerusakan pada paru-paru dan memicu respon radang yang dapat menyebabkan stres pada sistem kardiovaskular. Terdapat beberapa populasi yang memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena COVID-19 yang berat, antara lain:

  • Individu dengan sistem imun yang menurun, seperti pada pasien pasca transplantasi, pasien kanker yang menjalani kemoterapi atau radioterapi ekstensif, serta pasien leukemia atau limfoma yang memiliki penyakit jantung
  • Populasi lanjut usia serta wanita hamil yang memiliki penyakit jantung
  • Individu dengan gangguan jantung seperti gagal jantung, kardiomiopati, Arrhytmogenic right ventricular cardiomyopathy lanjut, serta pasien dengan penyakit jantung bawaan biru

3.  Apakah benar pasien dengan diabetes atau hipertensi memiliki risiko terkena COVID-19 yang lebih berat?

Berdasarkan data yang didapatkan dari China, sebagian besar pasien yang meninggal umumnya memiliki penyakit penyerta lainnya seperti diabetes dan hipertensi. Penjelasan dari fenomena tersebut masih belum jelas, namun hipertensi dan diabetes sering ditemukan pada populasi lanjut usia, yang juga merupakan populasi dengan tingkat kematian COVID-19 tertinggi. Terdapat beberapa artikel yang mengaitkan beberapa obat anti-hipertensi dengan COVID-19. Hingga saat ini, belum terdapat bukti sahih mengenai keterlibatan beberapa obat hipertensi seperti captopril, ramipril, lisinopril, valsartan, atau losartan dengan infeksi COVID-19. Hingga artikel ini disusun, belum ada rekomendasi dari organisasi kesehatan besar lainnya yang menganjurkan untuk menghentikan penggunaan obat-obatan tersebut.


4.   Apakah pasien dengan penyakit jantung lebih mungkin meninggal karena COVID-19 bila dibandingkan dengan pasien tanpa penyakit jantung?

Hingga saat ini, faktor risiko kematian pada COVID-19 meliputi faktor usia lanjut dan adanya riwayat penyakit penyerta termasuk penyakit jantung. Meski demikian, tetap perlu diingat bahwa masih ada pasien COVID-19 yang memiliki penyakit jantung yang hanya mengalami infeksi ringan dan berhasil sembuh.

 5.  Dengan adanya himbauan #StayAtHome kapankah sebaiknya saya perlu ke Rumah Sakit bila saya memiliki penyakit jantung sebelumnya?

Terdapat beberapa kondisi gawat darurat yang mengharuskan pasien datang ke IGD terdekat segera, kondisi tersebut antara lain sesak napas yang memberat dengan posisi tidur, sesak disertai batuk riak berdahak pink, nyeri dada seperti ditimpa beban berat disertai penjalaran ke lengan/punggung/leher, serta disertai mual, muntah, dan keringat dingin.

Demikian beberapa informasi penting yang dapat dijadikan pedoman dalam menghadapi situasidi tengan pandemi COVID-19. Pertanyaan terkait pengobatan dan tatalaksana Anda sebaiknya tetap dikonsultasikan dengan dokter Anda. Ingat bahwa meski di tengah pandemi, tetap terdapat kondisi gawat darurat yang mebutuhkan Anda untuk datang ke Rumah Sakit, termasuk serangan jantung.

 Written by: Beta C. Harlyjoy, MD

The writer is currently an active resident of Cardiology Department Faculty of Medicine Universitas Indonesia who was one of the research assistant to the former Minister of Health of Indonesia.

 Edited by: Eka Adip Pradipta, MD

The editor is a Cardiology resident at the Faculty of Medicine Universitas Indonesia, Jakarta. He previously worked in several rural areas in Indonesia, including Bintan, Riau Islands and Belu, East Nusa Tenggara and also a co-editor of the fourth edition of Kapita Selekta Kedokteran

 Reference: European Society of Cardiology. COVID-19 and Heart Patients (Q&A). Apr 2020. https://www.escardio.org/Education/COVID-19-and-Cardiology/what-heart-patients-should-know-about-the-coronavirus-covid-19

Kupas tuntas fakta mengenai COVID-19 dan Penyakit Jantung