komplikasi koagulopati pada pasien covid19

03 May 2020

 

“Meski diangap sebagai suatu penyakit saluran pernapasan, COVID-19 ditenggarai memiliki berbagai komplikasi berbahaya yang melibatkan sistem organ lain, antara lain sistem hemostasis. Apakah anda sudah tahu mengenai hal tersebut?”

 

Sudah lebih dari 4 bulan sejak coronavirus disease 2019 (COVID-19), penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-Cov 2), pertama kali beredar di dunia. Seluruh ilmuwan di seluruh dunia berlomba-lomba memelajari penyakit anyar ini dari berbagai aspek dengan banyak temuan yang mengundang tanya. 


        Meski diangap sebagai suatu penyakit saluran pernapasan, COVID-19 ditenggarai memiliki berbagai komplikasi berbahaya yang melibatkan sistem organ lain, antara lain sistem hemostasis. Beberapa penelitian menunjukkan munculnya banyaknya gangguan koagulasi seperti venous thromboembolism (VTE) dan disseminated intravascular coagulation (DIC) yang  ditemukan pada pasien COVID-19, terutama yang dalam katetgori kritis. Penelitian oleh Chen et al, menunjukan peningkatan kadar D-Dimer dijumpai pada 36% kasus COVID-19 di Wuhan, Tiongkok

    
         Studi lain menunjukan bahwa pasien yang membutuhkan perawatan intensif memiliki peningkatan kadar D-dimer dan panjang prothrombin time (PT) yang bermakna pada saat awal masuk rumah sakit jika dibandingkan dengan pasien tanpa peningkatan kadar D-dimer ataupun panjang PT. Pasien-pasien tersebut juga memiliki perjalanan penyakit yang lebih berat.2,3 

    
        Selain D-dimer, PT, dan activated partial thromboplastin time (aPTT), kadar fibrin degradation product (FDP) juga meningkat secara bermakna pada kelompok pasien yang mengalami kematian dibandingkan dengan penyintas. Pada saat yang sama, penurunan kadar fibrinogen dan antithrombin (AT) pada kelompok pertama diduga berkaitan dengan terjadinya DIC, menurut kriteria modified International Society of Thrombosis and Hemostasis (ISTH).4


Pasien dengan kecurigaan gangguan jantung dan kerusakan sel jantung akibat COVID-19 juga lebih rentan mengalami gangguan koagulasi.5 Studi oleh Shi S, et al menunjukkan bahwa pasien dengan kadar troponin T yang tinggi juga mengalami peningkatan panjang PT, aPTT dan kadar D-dimer.

 

Telaah lebih lanjut juga menunjukkan bahwa peningkatan D-dimer sendiri berhubungan dengan kejadian acute respiratory distress syndrome (ARDS) dan kematian. Hal tersebut didukung oleh studi kohort retrospektif lainnya dari Wuhan yang menunjukkan perbedaan median yang bermakna antara pasien COVID-19 yang mengalami kematian dan penyintas, menjadikan D-dimer salah satu prediktor kematian selama masa rawat (in-hospital mortality).6

 

Selain DIC, komplikasi hematologi lain yang sering ditemukan pada pasien COVID-19 adalah VTE. Sebuah penelitian oleh Klok, et al dari Belanda menyatakan bahwa 31% pasien COVID-19 yang dirawat di intensive care unit (ICU) mengalami komplikasi trombosis seperti VTE, infark miokard, stroke iskemik dan emboli arteri sistemik meskipun telah mendapatkan dosis thromboprofilaksis standar. Dari kelompok pasien tersebut, sekitar 80% di antaranya bermanifestasi sebagai emboli paru. Menariknya, pada kelompok pasien dengan emboli paru tersebut tidak ditemukan adanya tanda DIC.7

 

Koagulopati pada pasien COVID-19 seringkali menjadi masalah yang terlewatkan dibandingkan komplikasi prominen seperti gagal nafas atau gagal jantung oleh karena proses penyakitnya yang tidak kasat mata serta kriteria diagnostik yang cukup rumit. Apakah hemostasis merupakan sebab atau akibat dari perburukan pada pasien COVID-19 masih belum diketahui secara pasti. Namun, data yang ada menunjukkan bahwa koagulopati memiliki nilai prognostik yang sangat kuat sehingga patut dipertimbangkan dalam proses perawatan pasien COVID-19 khususnya yang memerlukan perawatan intensif.

 

Written by : Dya P. Andryan, MD

The writer is currently a cardiology resident at the Faculty of Medicine Universitas Indonesia, Jakarta. He previously worked at Sumedang General Hospital and was one of the research assistant in Research and Development Division of National Cardiovascular Center Harapan Kita.

 

Edited by: Eka Adip Pradipta, MD

The editor is a Cardiology resident at the Faculty of Medicine Universitas Indonesia, Jakarta. He previously worked in several rural areas in Indonesia, including Bintan, Riau Islands and Belu, East Nusa Tenggara and also a co-editor of the fourth edition of Kapita Selekta Kedokteran

 

 

Reference :

1.        Chen N, Zhou M, Dong X, Qu J, Gong F, Han Y, et al. Epidemiological and clinical characteristics of 99 cases of 2019 novel coronavirus pneumonia in Wuhan, China: a descriptive study. Lancet. 2020;395:507–13.

2.        Wang D, Hu B, Hu C, Zhu F, Liu X, Zhang J, et al. Clinical Characteristics of 138 Hospitalized Patients with 2019 Novel Coronavirus-Infected Pneumonia in Wuhan, China. JAMA - J Am Med Assoc. 2020;323:1061–9.

3.        Huang C, Wang Y, Li X, Ren L, Zhao J, Hu Y, et al. Clinical features of patients infected with 2019 novel coronavirus in Wuhan, China. Lancet. 2020;395:497–506.

4.        Han H, Yang L, Liu R, Liu F, Wu K, Li J, et al. Prominent changes in blood coagulation of patients with SARS-CoV-2 infection. Clin Chem Lab Med. 2020;0.

5.        Shi S, Qin M, Shen B, Cai Y, Liu T, Yang F, et al. Association of Cardiac Injury with Mortality in Hospitalized Patients with COVID-19 in Wuhan, China. JAMA Cardiol. 2020;

6.        Zhou F, Yu T, Du R, Fan G, Liu Y, Liu Z, et al. Clinical course and risk factors for mortality of adult inpatients with COVID-19 in Wuhan, China: a retrospective cohort study. Lancet. 2020;395:1054–62.

7.        Klok FA, Kruip MJHA, van der Meer NJM, Arbous MS, Gommers DAMPJ, Kant KM, et al. Incidence of thrombotic complications in critically ill ICU patients with COVID-19. Thromb Res [Internet]. 2020;1–3. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/32291094

 


komplikasi koagulopati pada pasien covid19